SEPTEMBER KU TELAH MATI
“Aku seperti buku selalu mewarnai jendela dunia, penaku adalah aksara yang mampu mengukir perasaan insan.”
Di jalan ini daku menyapa senja.
Di bawah kaki sepuh Donggala.
Ia datang setelah gata lalu hilang.
Secawan riuh gulungan ombak bak murung.
Burung burung membawa seruling mega.
Kini aku menari di dahan merdu kicauan cinta.
Riuh histori mengingatkan daku di lembayung.
Temaram telah basah yang kampa tandang.
Kini sang surya masih terlihat benih lara.
Namun, lirih tatkala membakar bak onggokannya.
Kini diriku yang tenang.
Mengingat masa lalu telah hilang.
Setelah basah menggigil atmaku di kaki donggala.
Sahaja bertawakal, dukacita hilang cinta yang anitya.
Serasa angkuh melayang layang.
Bak kalbu ku tiada lagi detak raga dalam doa aksara.
M4ti tak kunjung tepi di sepuh donggala.
Telah hanyut 1.770 hari dalam puing puing kota.
Sumpah serapah tak berkiblat melama.
Hingga rona jingga pulang membisik daku jalan di asmara.
Palu, 9 April 2023
IRFAN CHOELY



